Hai, Smart People! Ini tuh catatanku sebagai seorang blogger yang belajar menjaga ruang pribadi tetap aman secara digital di era yang bisa kubilang serba terbuka.
Aku tuh pernah berada di persimpangan yang serupa dengan banyak teman pegiat digital lainnya. Bingung antara keinginan untuk terlihat, terhubung, dan tumbuh secara online, dengan kebutuhan untuk tetap aman, tenang, dan pribadi.
Maksudku, sebagai seseorang yang memelihara akun media sosial secara personal sekaligus beberapa blog yang menjadi sumber pendapatan, aku menyadari bahwa lebih ramai bukan berarti lebih aman.
Dalam dunia media sosial yang cepat dan luas, identitas kita, baik sebagai pribadi ataupun sebagai pemilik usaha, nyaris nggak pernah diam. Dan justru di sanalah tantangannya.
Ketika Jejak Digital Jadi Cerita yang Berkembang
Aku menyadari kalau aku mengelola blogku sama dengan kayak tahun-tahun awal aku membangunnya, pasti akan sangat ketinggalan jaman.
Makanya, aku memutuskan untuk menyusun ulang strategi akun blogku. Mulailah, aku memisahkan akun media sosial untuk personal dengan beberapa blog yang memang punya niche yang berbeda-beda.
Di saat yang bersamaan, aku malah ketemu sama pesan masuk dari seseorang yang mengira aku punya akun personal seputar niche tertentu (katakanlah bisnis, kayak blog ini).
Padahal, itu akun media sosial untuk blog yang kujalankan sebagai media berkumpul bagi pembaca khusus. Bukan akun pribadi. Hmm…
Dari situ, aku semakin berpikir bahwa apa yang kita bagi di ruang publik digital bisa dengan cepat bergerak sendiri tanpa kontrol penuh.
Persis kayak seseorang itu tadi yang mengira bahwa akun media sosial blog sebagai aku secara personal.
Instagram, Privasi, dan Bisnismu, Pilih yang Bijak!
Setiap platform media sosial punya cara berbeda dalam menampilkan identitas dan informasi yang kita unggah.
Instagram misalnya. Bisa jadi etalase visual yang indah untuk ide dan produk. Tapi sayangnya, juga bisa membuka lebih banyak data pribadi dari yang kita sengaja bagikan.
Inilah sebabnya aku sering membahas praktik seperti cara memprivate akun IG. Bukan semata-mata karena kita takut terlihat di ranah digital ya. Tapi, sebagai langkah sadar untuk menjaga ruang pribadi yang nggak selalu perlu terpapar publik.
Dalam mengatur privasi dan keamanan akun, kalian bisa mempertimbangkan untuk membatasi siapa saja yang bisa melihat postingan kalian, serta kontrol informasi dasar yang tampak di profil.
Sayangnya, kalau kalian memutuskan untuk berbisnis, katakanlah menjadi seorang blogger, kalian perlu membuat orang melihat kalian.
Jadi, pilihlah dengan bijak apa yang perlu kalian private dan nggak. Bila memungkinkan, kalian bisa pisahkan akun media sosial untuk kepentingan bisnis dan personal.
Jaga Diri tetap Aman secara Digital Ala Slow Internet Life

Aku tahu banget. Saat mengelola bisnis, keramaian dalam bisnis akan sangat menyenangkan.
Notifikasi masuk, komentar riuh, DM yang penuh ide. Semua itu bagian dari dinamisnya kehidupan digital.
Namun, ada juga hal yang kadang kita lupa. Jejak yang kita tinggalkan di online nggak akan hilang begitu saja. Dan saat itu terjadi tanpa sadar, bisa berdampak pada pengalaman kita di luar layar.
Aku punya beberapa tips aman saat menggunakan media sosial yang aku perlahan terapin dari sumber-sumber kredibel, antara lain:
- Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) untuk akun penting. Ini seperti dua kunci di depan pintu rumah kalian di dunia digital.
- Gunakan kata sandi yang kuat dan unik tiap akun. Misalnya, kamu punya akun bisnis dan personal, maka keduanya harus punya kata sandi berbeda.
- Secara berkala tinjau pengaturan privasi di setiap platform, termasuk siapa yang bisa melihat konten atau kontak kalian.
Meski kelihatannya sederhana, langkah-langkah kecil ini punya efektivitas yang besar dalam menjaga akun tetap aman sambil tetap bisa aktif berinteraksi dengan audiens kalian lho.
Menjadi Tuan Rumah Bukan Berarti Harus Terbuka Sepenuhnya
Menjalankan blog yang memberi penghasilan artinya aku belajar memisahkan beberapa hal, yaitu:
- Identitas publik sebagai blogger untuk brand dan blog.
- Identitas personal yang tetap ingin kuhormati sebagai ruang pribadi.
Aku nggak masalah kalau keduanya saling berkaitan, tapi nggak mau yang tanpa batasan. Aku tetap ingin ada batas yang jelas.
Bayangkan akun media sosial kalian kayak dua ruang dalam rumah. Satu ruang tamu yang bisa siapa saja lihat dan satu lagi, ruang pribadi yang hanya untuk keluarga.
Bukankah kalian bisa menata keduanya dengan rapi, indah, dan tetap aman. Iya nggak, Smart People?
Privasi Bukan Hambatan, Namun Pondasi untuk Rasa Aman secara Digital
Aku tahu kok urusan bisnis nggak bisa kita jalankan dalam gelembung. Dalam artian, interaksi itu penting. Jaringan juga penting. Konten yang menarik dan bernilai jauh lebih penting.
Tapi eh tapi, kalau tanpa rasa aman, semuanya bisa menjadi beban emosional yang seharusnya nggak perlu kita tanggung.
Asal kalian tahu nih ya, Smart People. Menjaga ruang digital yang aman bikin aku bisa merasakan beberapa hal, sebagai berikut:
- Berani berekspresi lebih natural.
- Fokus pada kualitas konten.
- Mengurangi kecemasan akan oversharing.
Bagiku, ini bukan hanya soal langkah teknis. Lebih dari itu, ini soal gimana kita menghormati diri sendiri di dunia yang selalu memanggil untuk tampil.
Ramai Itu Bonus, Aman secara Digital Itu Pondasi
Kalau misalkan nih, kalian sedang membangun audiens, memperluas jangkauan, atau menjadikan media sosial sebagai bagian dari perjalanan profesional. Coba deh berhenti sejenak dan pikirkan tentang keamanan identitas kalian!
Aku paham ramai di media sosial itu indah. Tapi, menjaga diri kalian tetap aman secara digital jauh lebih penting.
Karena saat ruang digital aman, kalian akan bebas menciptakan, berbagi, dan tumbuh tanpa ada rasa takut yang berlebihan.






Bener banget Mbak Yuni, kalau medsos pribadi dan usaha perlu dipisahkan. Memang secara management kayak riweuh karena yang dimanage jadi banyak. 😅
Hanya saja kalau medsos pribadi dibuat bisnis, jadi banyak membuka hal² privat juga. Dan nggak mudah ngontrol data apa saja yang sudah kita buka ke khalayak ramai. 🥹🥹
Ishhh benerr banget ini mah
kalo baca berita2 doxing, scam dll di ramah digital, rasanya ngeriii beuds
wisss, yg terpenting adalah kita AMAN selalu yaaa
Setuju pada bagian “Menjadi Tuan Rumah Bukan Berarti Harus Terbuka Sepenuhnya”. Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain terhadap hal-hal pribadi yang kita publikasi, maka kita yang harus mengatur sendiri mana yang boleh dibagikan dan tidak. Atau, dibagikan tapi hanya kepada orang-orang tertentu.
Saya sendiri membatasi follower dan following pada akun IG kedua saya. Yang tadinya terbuka dan bisa siapa aja di situ melihat, akhirnya saya kunci dan saya sortir siapa yang boleh tetep terhubung di akun kedua.
Itu hak kita.
Nah, yang terpenting buatku dalam bercerita di Blog, adalah tidak oversharing ya. Makanya aku lebih seneng berbagi cerita yang sifatnya bukan rutinitas, dan itupun seringkali sudah lewat berhari-hari dari sejak kunjungan. Tujuannya ya biar ga ada yg bisa tracking, kita lagi apa dan ada dimana. Terus konten curhat pun banyak aku kurangi, karena takut kelepasan sharing yang sekiranya gak perlu.
Kalo keamanan, aku sekarang udah pake aplikasi khusus mbak. Jadi passwordnya di-generate (Full random), dan aku pun gak hafal sama sekali, hihihi
Sepakat sekali kalau keamanan dalam dunia digital adalah sesuatu yang urgen. Makanya hal-hal seperti verifikasi 2 langkah itu walaupun agak ribet tapi memang penting untuk kita miliki sebagai bentuk ikhtiar mengamankan akun yang kita punya
Buat kita sebagai pekerja konten digital, memang asik sih bisa bebas bet ekpresi membuat konten yang ciamik dan original. Namun, harus tetap paham juga soal bagaimana yang aman di ruang digital ini, agar tidak ada rasa kecemasan
Saya sendiri termasuk orang yang lebih suka dikenal karyanya ketimbang orangnya. Ada banyak kisah lucu tentang orang terkenal seperti ini. Dan rata rata emang penulis. Contohnya kaya Tere Liye. Bukunya dibaca oleh penumpang di sampingnya di pesawat, tapi pembaca itu gak tahu kalau penulisnya di samping.
Memang sebaiknya akun media sosial untuk bisnis dan pribadi dipisahkan ya. Jadi yang akun pribadi bisa disetting private. Lebih aman untuk menjaga diri kita. Karena banyak hal buruk bisa berawal dari media sosial. Namun saya tetap berharap kita semua dilindungi dari kejahatan cyber.
Jujur was2 banget sekarang naruh nomor ponsel/nomor WA di sosmed. Padahal kan pgn mempermudah kita terhubung secara bisnis dgn klien ya kak, apalagi seorang blogger. Nyawanya ada di situ meski tetap aja udh ngasih email, klien masih pilih lgsg kontak via WA.
Tp anehnya, skrg tuh banyak telpon ga jelas, entah dari mana. Untung aku pake aplikasi telepon scam yang bisa ngasih tau itu telepon jelas/kagak. Pokoknya kalo udh telp ga jelas/WA aneh2, blokir aja udah. Aman deh secara digital. Blm lagi kalo ntr ngasih link2 ga jelas. Waspada bgt deh ya.
Aku pribadi bahkan gak bikin IG untuk personal euy. IG dan blog aku sama-sama dibranding dengan nama yang sama, momopururu.
Tapi, yang aku pelajari dan akhirnya aku praktekkan, aku gak mengupload semua keseharian aku banget. Upload video jalan-jalan atau stories jalan-jalan pun biasanya gak on the spot, alias beberapa hari kemudian baru aku mulai story-in.
Selain untuk menjaga privasi, memang suami yang ngingetin juga untuk gak perlu langsung unggah saat itu juga (ya beda ceritanya kalau menghadiri event atau lagi terima job ya, kalau itu mengharuskan stories langsung ya baru deh share saat itu juga).
Jadi gitu deh. Aku setuju dengan memisahkan kehidupan personal dengan apa yang bisa kita share, baik di blog maupun di media sosial. Tinggal pilih cara apa yang paling tepat untuk bisa memisahkan hal tersebut 🙂
sesuai pengalaman saya, agar bisa konsisten, maka wajib sekali selalu ramai di media sosial. Minimal harus rajin menulis dan share di medsos. Jadi orang terus ingat kita. kalau tidak, kita bisa tenggelam dan akhirnyaorang melupakan kita. Dan penting sekali ini ya,menjaga keamanan akun kita. usahakan bikin sandi yang rumit.
Thanks artikelnya. Ini tu pengingat buat kita yang menjadikan ruang digital sebagai personal branding, apalagi menampilkan foto juga kehidupan pribadi di blog maupun sosmed supaya tetap memiliki batasn ya, mana yang perlu dishare mana yang sebaiknya dikeep buat diri sendiri aja.
Soal keamanan dunia maya juga gitu supaya nggak kena scam/ penipuan, nggak cuma buat kita, tetapi juga buat orang2 terdekat kita, maka kita juga mesti aware dengan sistem2 perlindungan bagaimana melindungi aset2 digital kita supoya nggak dicuri oleh orang2 yang tidak bertanggungjawab.
Yaaps betul banget mbak, ranah pribadi harus tetap terlindungi. Punya dua akun lebih bijaksana sepertinya. Yang satu utnuk personal branding dgn poatingan yang relate dengan pekerjaan da satu lagi akun pribadi dengan jumlah teman yang lebih sedikit. Rasanya lebih tenang dan aman sentosa.
Setuju, sebagai blogger yang selalu berhubungan dengan dunia maya, kita emang mesti lebih melek lagi sama keamanan privasi diri sendiri yaaaa..
Nah iya, sebagai orang yang bekerja dari media sosial, ini bikin dilema ya
Kudu tetap aktif posting, tapi jgn sampai keamanan data pribadi teeancam ya
Saya tuh suka heran sama orang yang senang mengejar viral
Padahal belum tentu yang viral itu aman dan menenangkan
Makanya perlu smat supaya tidak tergoda hal yang cuma di permukaan
Jadi reminder banget Mbaaa. Makasiih,,
Bener banget ya ,, walau ramai di sosmed, kalau gak aman digitalnya bisa bahaya bangett… Jadi inget buat selalu jaga privasi ,jangan asal klik link aneh, jangan share data pribadi yang sensitif, dan aktifin pengamanan kayak two-factor authentication biar akun tetap aman..
Di era seperti saat ini, kita memang perlu bijak-bijak dalam berbagi agar jangan oversharing. Malah, sekarang kita bisa membuat faceless account atau faceless channel, seperti video khusus kereta api, agar privasi dan data diri lebih terjaga.