Waktu awal jadi affiliate marketer, aku nggak paham istilah dalam affiliate marketing. Prinsipku waktu itu mah simple aja. Cerita tipis-tipis tentang produknya terus bagikan link.
Habis itu, tinggal nunggu teman-temanku di sosial media klik link-nya dan melakukan pembelian. Biar aku bisa dapat komisi.
Agak lama juga sih nunggu komisi pertama cair. Begitu kejadian, aku bukannya seneng malah makin bingung. Coba tebak kenapa?
Istilah-istilahnya bikin aku sepaneng, Smart People. Bayangin deh! Aku disuguhi sama istilah komisi dari CPA? CTR-nya tinggi, EPC-nya naik. Alamak, apaan itu artinya dah?
Dari situ aku sadar kalau mau serius di affiliate marketing, ya harus paham dulu istilah-istilah dasarnya. Biar aku bisa baca performa, tahu cara kerja sistem komisinya, dan punya strategi lebih cerdas untuk hasil yang maksimal.
Kalau kamu juga baru mulai atau masih suka bingung sama istilah dalam dunia affiliate, yuk kenalan sama beberapa istilah penting ini!
Istilah dalam Affiliate Marketing terkait Sistem Komisi
Buat Smart People yang baru join program affiliate, jangan berpikir kayak aku ya! Mengira semuanya soal “asal share link, nanti dapat uang.”
Nggak semudah itu ya. Tiap program punya sistem komisi yang berbeda, tergantung bagaimana cara mereka menghitung hasil kerja kita sebagai affiliate.
Nah, biar kamu nggak bingung (kayak aku dulu), yuk kenali beberapa jenis sistem komisi dalam affiliate marketing dan istilah-istilah yang sering muncul!
1. CPC (Cost Per Click)

Kamu akan dibayar setiap kali seseorang klik link affiliate-mu, meski nggak ada transaksi jual-beli. Jadi, fokus dari sistem ini bukan pada hasil akhir (seperti pembelian), tapi jumlah klik yang berhasil kamu hasilkan dari konten promosi.
Biasanya, komisi per klik tuh nggak terlalu besar (bisa hanya beberapa ratus hingga ribuan rupiah per klik). Tapi kalau mampu menghasilkan trafik tinggi secara konsisten, hasil akhirnya tetap bisa signifikan kok.
Sistem afiliasi dengan CPC ini cocok banget buatmu yang punya trafik besar dan stabil, misalnya dari blog, channel YouTube, Pinterest, atau akun media sosial dengan banyak followers.
Semakin tinggi klik yang dihasilkan, semakin besar pula potensi penghasilanmu. Meskipun nggak ada yang membeli produknya.
Tapi ingat ya! Kualitas klik juga penting. Jangan hanya fokus mengejar angka tanpa mempertimbangkan apakah kontennya relevan atau membantu audiens.
Soalnya, beberapa platform bisa mendeteksi klik yang nggak valid dan akhirnya nggak akan menghitungnya sebagai komisi.
2. CPA (Cost Per Action)
Kamu akan mendapatkan komisi setelah orang melakukan tindakan tertentu yang sudah ditentukan oleh penyedia program affiliate. Tindakannya bisa bermacam-macam, bukan cuma beli produk, lho. Misalnya:
- Daftar akun di sebuah website.
- Isi formulir data diri.
- Download aplikasi.
- Masukkan alamat email.
- Ikut webinar.
- Atau bahkan hanya menonton video sampai selesai.
Komisinya biasanya lebih tinggi dari CPC, karena mengarahkan orang untuk mengambil aksi nyata. Tapi tetap lebih mudah dari CPS, karena belum mengharuskan adanya transaksi pembelian.
CPA cocok banget buat kamu yang punya audiens yang aktif dan suka coba hal baru, terutama kalau kamu bisa memberikan alasan kuat kenapa mereka harus ambil aksi (misalnya dengan tutorial, ulasan jujur, atau bahkan bonus tambahan dari kamu).
3. CPS (Cost Per Sale)
Ini adalah model yang paling umum dan paling sering dipakai dalam affiliate marketing. Smart People mendapatkan komisi hanya jika seseorang benar-benar membeli produk atau layanan melalui link affiliate yang kamu bagikan.
Jadi, fokusnya bukan cuma klik atau aksi ringan, tapi benar-benar terjadi transaksi pembelian.
Komisi biasanya berbentuk persentase dari harga jual. Misalnya, kalau kamu promosiin produk skincare seharga Rp150.000 dan komisinya 10%, maka setiap pembelian yang terjadi lewat link-mu akan menghasilkan Rp15.000.
4. CPL (Cost Per Lead)
Dalam sistem ini, kamu akan dibayar jika berhasil menghasilkan prospek (lead), yaitu orang yang menunjukkan minat terhadap suatu produk atau layanan, meskipun belum membeli apa-apa.
Biasanya, yang diminta hanya tindakan sederhana seperti:
- Mengisi formulir kontak.
- Mendaftarkan email.
- Booking jadwal konsultasi atau demo gratis.
Komisi dari CPL biasanya lebih rendah daripada CPA atau CPS, karena aksi yang dilakukan audiens masih sangat awal.
Tapi karena mudah dilakukan, peluang konversinya bisa cukup tinggi. Apalagi jika kamu tahu cara menyusun konten yang persuasif.
CPL biasanya digunakan dalam kampanye B2B (Business to Business), jasa konsultasi dan freelance, webinar dan pelatihan online, dan platform edukasi atau coaching.
5. RevShare (Revenue Share)
Hampir mirip dengan CPS (Cost Per Sale), tapi bedanya, kamu akan terus mendapatkan komisi secara berkelanjutan selama pelanggan yang kamu referensikan tetap menggunakan layanan tersebut.
Jadi, bukan cuma komisi sekali saat mereka beli pertama kali ya. Tapi selama mereka tetap jadi pelanggan, kamu pun tetap dapat bagian dari pendapatan itu.
Ilutrasinya tuh begini, misalnya kamu mempromosikan layanan hosting dengan biaya langganan Rp100.000/bulan. Program affiliate-nya menawarkan skema RevShare 30%, artinya:
- Setiap bulan, selama pelanggan aktif, kamu akan dapat komisi sebesar Rp30.000.
- Kalau pelanggan bertahan 12 bulan, maka kamu dapat Rp360.000 hanya dari satu orang.
Bayangkan kalau kamu bisa bawa masuk 10–20 pelanggan setia. Wuih, penghasilan pasif-mu bisa stabil tanpa harus terus promosi produk baru.
Istilah dalam Statistik Dashboard Affiliate Marketing
Pas pertama kalinya aku buka dashboard affiliate, jujur aku sempat panik. Banyak angka-angka aneh muncul. CTR, CR, EPC, klik segini, konversi segitu. Aku cuma bisa bilang dalam hati:
“Ini maksudnya apa, ya? Aku dapat duit atau nggak, sih?”
Awalnya memang bikin pusing, apalagi kalau kamu baru banget mulai. Tapi ternyata, angka-angka ini tuh adalah kunci penting buat evaluasi performa kita sebagai affiliate marketer.
Bukan cuma angka sembarangan, tapi data yang bisa bantu kita untuk tahu tentang beberapa hal, antara lain:
- Konten mana yang paling efektif,
- Produk mana yang layak terus dipromosikan,
- Strategi mana yang harus diperbaiki atau dihentikan
Kalau kita tahu cara bacanya, dashboard ini justru bisa jadi teman terbaik kita untuk berkembang. Bukan cuma dari sisi pendapatan, tapi juga kualitas promosi kita.
Dan enaknya, kamu nggak perlu jadi ahli statistik buat paham semua ini. Yuk, kita bahas satu per satu dengan cara yang simpel.
1. CTR (Click-Through Rate)

CTR menunjukkan berapa persen orang yang meng-klik link affiliate-mu dibandingkan dengan total orang yang melihat kontennya.
Semakin tinggi CTR, semakin efektif kontenmu dalam menarik perhatian dan membuat orang tertarik mengambil tindakan.
CTR adalah indikator awal yang menunjukkan seberapa efektif promosimu. Tanpa klik, orang nggak akan masuk ke halaman produk, dan tanpa kunjungan ke halaman produk, nggak akan ada pembelian dong.
Jadi, meskipun CTR bukan penentu akhir, dia tetap jadi tolak ukur penting untuk mengevaluasi apakah kontenmu cukup “menggoda” audiens buat klik link yang kamu pasang.
2. CR (Conversion Rate)
Kalau CTR tadi menunjukkan seberapa banyak orang yang klik link affiliate-mu, maka CR (Conversion Rate) menunjukkan berapa banyak dari mereka yang benar-benar melakukan aksi yang menghasilkan komisi.
Mudahnya tuh, CTR = yang tertarik, CR = yang akhirnya ambil tindakan (beli, daftar, langganan, dan lain-lain)
CR menunjukkan seberapa efektif kontenmu dalam meyakinkan audiens untuk mengambil langkah selanjutnya. CTR tinggi tapi CR rendah bisa jadi sinyal bahwa:
- Halaman produk kurang meyakinkan.
- Audiens-mu nggak sesuai target produk.
- Atau kontenmu kurang membangun rasa butuh
Jadi CR itu semacam “indikator akhir” dari kualitas konten, kecocokan audiens, dan kualitas produk yang kamu promosikan.
3. EPC (Earnings Per Click)
EPC alias Pendapatan per Klik adalah rata-rata jumlah uang yang kamu hasilkan dari setiap klik di link affiliate-mu.
Jadi, misalnya kamu dapat 100 klik dan hasilkan total Rp200.000, maka EPC kamu adalah:
Rp200.000 ÷ 100 klik = Rp2.000/klik
Dengan melihat EPC, kamu bisa tahu mana promosi yang paling menguntungkan meski jumlah kliknya nggak terlalu besar.
Kadang konten dengan jumlah klik sedikit bisa punya EPC tinggi karena banyak yang beli. Sebaliknya, konten yang viral tapi cuma memicu klik iseng, bisa punya EPC rendah karena nggak menghasilkan komisi.
4. ROI (Return on Investment)
“Aku udah keluar uang buat ads, tapi dapetnya berapa sih? Untung atau malah boncos?”
Itu pertanyaan yang biasa banget muncul ketika mulai promosi link affiliate pakai iklan berbayar. Nah, jawabannya bisa kamu temukan lewat metrik ROI ini.
ROI (Return on Investment) artinya seberapa besar keuntungan yang kamu dapat dibandingkan dengan modal yang kamu keluarkan. Dalam konteks affiliate marketing, ini bisa berarti:
- Biaya untuk pasang iklan (misalnya: Meta Ads, Google Ads, TikTok Ads)
- Biaya tools, email marketing, atau bahkan jasa desain kalau kamu pakai
ROI itu penting saat kamu sudah mulai main iklan berbayar. Tapi meskipun kamu masih promosi organik (tanpa biaya), memahami konsep ROI tetap berguna supaya kamu terbiasa berpikir secara strategis dan efisien.
Tracking Link dan Cookie Duration

Setiap kali kamu daftar program affiliate, kamu akan dapat tracking link atau link unik yang bisa “mengawasi” siapa yang klik dan beli lewat kamu. Tracking link ini masih termasuk dalam istilah dalam affiliate marketing ya!
Jadi, walaupun mereka beli besok atau lusa, asal masih dalam cookie duration, kamu tetap dapat komisi.
Cookie Duration
Lama waktu sistem affiliate “mengingat” bahwa pembeli berasal dari kamu.
- Contoh: Cookie 30 hari = selama 30 hari setelah klik link-mu, pembelian masih terhitung sebagai milikmu.
Aku Pernah Salah Paham… dan Malu Banget!
Dulu aku kira CPC itu pasti lebih menguntungkan. Jadi, aku fokus cari klik sebanyak-banyaknya. Tapi ternyata, produknya nggak sesuai niche dan malah bikin orang nggak tertarik beli.
Barulah aku paham kalau nggak cukup cuma tahu istilahnya, tapi juga harus ngerti strateginya. Dan itu dimulai dari tahu arti sebenarnya dari istilah-istilah itu.
Pelan-Pelan Aja, Yang Penting Paham Istilah Dalam Affiliate Marketing
Affiliate marketing itu dunia yang seru dan bisa banget jadi sumber penghasilan pasif kalau kamu mengerti caranya. Tapi semua itu dimulai dari hal kecil yaitu paham istilah dalam affiliate marketing dulu.
Jangan buru-buru. Nikmati prosesnya. Komisi pertamamu akan terasa lebih manis saat kamu tahu benar dari mana asalnya.
Kamu pernah bingung juga pas lihat istilah-istilah di dashboard affiliate? Cerita yuk di kolom komentar! Atau share artikel ini buat temanmu yang juga baru mulai jadi affiliate marketer.






tak kenal maka tak sayang…
hehe
sebaiknya dalam hal apapauna sebelum terjun, harus lebih dahulu mengenal dan paham
termasuk dari dunia affiliate marketing ini.
setuju jadi kita harus paham dulu istilah-istilah dasarnya. Biar bisa baca performa, tahu cara kerja sistem komisinya, dan punya strategi lebih cerdas untuk hasil yang maksimal ya…
Tampaknya menarik, tapi terus terang aku masih bingung mau mulai dari mana dan produk apa.
Mbaa Yuni….sata bafu beneran paham sekarang berbagai macam cara² sessorang dapat komisi dari sistem affiliate. Lengkap banget informasinya. Ternyata macam² yaa sistem pencairan komisi dan semua tergqntung kebijakan yg punya produk. Paling enak tuh yg sistem klik, gak ngapa²in langsung cuz dapat bonus asal ada yg klik link affiliate nya.
Menarik nih, saya jadi lebih paham istilah-istilah affiliate marketing nih, mencoba menyerah pelan-pelan supaya ga gagal paham deh. Hal yang baru buat saya selama ini hanya tahu permukaannya aja dan masih bingung mau menjalankan nya